Mantan suami bilang nggak sanggup bayar nafkah karena gaji kecil? Eits, hukum nggak semudah itu membebaskan kewajiban lho!” Setelah cerai, nafkah untuk mantan istri dan anak itu bukan cuma soal keikhlasan, tapi kewajiban yang sudah diatur undang-undang. Hakim punya rumus khusus untuk menentukan nominalnya, yaitu dengan menimbang dua hal utama: seberapa besar kemampuan kantong si ayah dan apa saja kebutuhan nyata bagi anak serta mantan istrinya.
Tujuannya jelas, supaya anak tetap bisa sekolah dan makan bergizi meskipun orang tuanya sudah nggak bareng lagi. Hakim akan melihat bukti penghasilan, aset, sampai gaya hidup si mantan suami supaya angka nafkahnya masuk akal—nggak kemahalan sampai bikin bangkrut, tapi juga nggak kekecilan sampai menyengsarakan anak. Ingat, kebutuhan anak itu prioritas, jadi kalau ada kenaikan biaya sekolah atau inflasi, nominal nafkah ini sebenarnya bisa diminta untuk naik di kemudian hari.
Jadi buat para ibu, jangan ragu untuk memperjuangkan hak nafkah di pengadilan dengan membawa bukti kebutuhan yang jelas. Begitu juga buat para ayah, jujurlah soal penghasilan karena tanggung jawab terhadap anak tetap melekat sampai mereka dewasa atau mandiri. Dengan aturan yang adil ini, negara memastikan bahwa perceraian orang tua tidak boleh mengorbankan kesejahteraan dan masa depan anak-anak.
